Ada satu angka yang sebaiknya ditempel di dinding setiap ruang redaksi tahun ini: 33 persen. Itulah penurunan trafik organik dari Google ke lebih dari 2.500 situs berita secara global dalam rentang November 2024 hingga November 2025. Di Amerika Serikat, angkanya lebih dalam lagi, anjlok 38 persen. Data ini bukan dugaan atau keluhan editor yang sedang panik menjelang rapat redaksi bulanan. Angka itu berasal dari Reuters Institute Digital News Report 2026, laporan tahunan paling otoritatif soal lanskap konsumsi berita digital, yang dirilis Reuters Institute for the Study of Journalism, Universitas Oxford, pada 16 Juni 2026.
Laporan edisi ke-15 ini disusun dari hampir 100 ribu wawancara terhadap konsumen berita online di 48 negara, termasuk Indonesia. Dan kesimpulannya cukup tegas: industri media sedang berdiri di titik balik yang tidak bisa lagi disangkal. Badai disintermediasi atau disintermediation, yakni hilangnya peran media sebagai perantara wajib antara informasi dan pembaca, kini memasuki babak paling intens sejak era digitalisasi berita dimulai pada awal 2000-an. Pemicunya jelas dan sudah lama diramalkan banyak pihak, tapi baru sekarang terasa dampaknya secara penuh: kecerdasan buatan generatif dan mesin pencari berbasis Search Generative Experience.
Ketika Mesin Pencari Berhenti Mengirim Pembaca
Selama dua dekade, hubungan antara media dan mesin pencari berjalan dengan satu kesepakatan tidak tertulis yang sederhana. Media menulis, mengindeks, mengoptimalkan setiap artikel agar ramah algoritma, dan sebagai imbalannya, Google mengirimkan trafik. Model bisnis ribuan media di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dibangun di atas fondasi pertukaran ini.
Fondasi itu kini retak. Reuters Institute mencatat bahwa peluncuran AI Mode dan AI Overviews secara bertahap ke pengalaman pencarian Google diyakini kuat memengaruhi trafik rujukan ke publisher, terutama untuk jenis pencarian tertentu, meski sebagian besar kueri berita yang sifatnya hard news memang masih dikecualikan dari AI Overviews untuk saat ini. Data agregat dari perusahaan analitik Chartbeat yang dikutip dalam laporan tren jurnalisme, media, dan teknologi 2026 Reuters Institute menunjukkan trafik organik Google ke lebih dari 2.500 situs turun sepertiga secara global dan 38 persen di Amerika Serikat dalam periode setahun. Yang lebih mengkhawatirkan, para pemimpin redaksi sendiri tidak melihat tanda-tanda pemulihan. Mereka memperkirakan trafik dari mesin pencari akan merosot hampir separuh, sekitar 43 persen, dalam tiga tahun ke depan.
Fenomena yang oleh banyak praktisi disebut zero-click search ini membuat audiens merasa tidak perlu lagi mengeklik tautan keluar karena jawaban sudah tersaji utuh di halaman hasil pencarian. Tabel berikut merangkum bagaimana proyeksi penurunan trafik rujukan dari berbagai laporan Reuters Institute terbaru.
| Indikator | Temuan |
| Penurunan trafik organik Google global (Nov 2024–Nov 2025) | 33% |
| Penurunan trafik organik Google di AS | 38% |
| Proyeksi penurunan trafik pencarian dalam 3 tahun ke depan | Hingga 43–40% |
| Pembaca yang rutin mengeklik sumber asli berita | Hanya 4% |
| Editor media yang optimistis terhadap prospek jurnalisme 2026 | 38% |
Konsekuensi paling nyata dari pergeseran ini adalah makin sedikit orang yang mengunjungi langsung situs berita, dengan hanya 4 persen responden yang mengaku selalu atau sering mengeklik hingga ke sumber asli berita. Bagi ruang redaksi yang model bisnisnya masih bertumpu pada iklan display dan volume pageview, angka ini setara dengan alarm kebakaran yang berbunyi di tengah malam.
Platformisasi: Media Bukan Lagi Pemain Utama
Reuters Institute menyebut tahun 2026 sebagai titik penting karena untuk pertama kalinya, media sosial dan jaringan video secara rata-rata mengungguli televisi maupun situs serta aplikasi milik media berita sendiri sebagai sumber berita yang paling banyak digunakan secara global. Penggunaan berita lewat TV maupun lewat situs dan aplikasi media sendiri sama-sama turun, masing-masing 13 dan 12 poin persentase sejak 2020. Fenomena ini oleh para peneliti disebut “platformisasi”, yaitu bergesernya kendali atas bagaimana orang menemukan berita dari tangan media ke tangan algoritma platform pihak ketiga.
Yang menarik, kecemasan ini bukan hanya milik media kecil atau menengah. Dari survei terhadap 280 pemimpin redaksi digital di 51 negara, hanya 38 persen yang menyatakan percaya diri terhadap prospek jurnalisme tahun ini, turun 22 poin persentase dibanding empat tahun lalu. Ini bukan sekadar keluhan kolektif, melainkan cerminan langsung dari pergeseran struktural yang sedang terjadi.
Generasi muda menjadi cermin paling tajam dari perubahan ini. Lebih dari separuh responden berusia 18 hingga 24 tahun mengaku media sosial, jaringan video, atau AI menjadi sumber utama mereka mendapatkan berita. Artinya, ruang redaksi tidak lagi bersaing memperebutkan perhatian dari sesama media, melainkan dari kreator konten, influencer, dan asisten AI yang merangkum berita dalam hitungan detik.
Chatbot AI: Pelan tapi Pasti Masuk ke Rutinitas Berita
Soal AI chatbot sebagai sumber berita, datanya memang belum sebesar yang dibayangkan banyak pihak, tapi tren pertumbuhannya konsisten naik. Penggunaan mingguan chatbot AI untuk berita naik dari 7 persen pada 2025 menjadi 10 persen secara global pada 2026, dengan pertumbuhan utama berasal dari sebagian Asia, Afrika, Amerika Latin, serta Eropa Selatan dan Timur. Hanya 1 persen responden yang menjadikan AI sebagai sumber berita utama mereka, menunjukkan chatbot masih berfungsi sebagai alat pelengkap, bukan pengganti penuh sumber berita lain.
Namun pola penggunaannya patut dicermati serius oleh redaksi. Banyak pengguna tidak sekadar mencari ringkasan, tapi mengajukan pertanyaan lanjutan, meminta penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana, atau meminta evaluasi atas kredibilitas sumber, menunjukkan AI mengambil peran yang menggabungkan akses, interpretasi, sekaligus personalisasi berita. Di sinilah letak ironinya: AI tidak hanya merebut klik, tetapi juga mengambil alih sebagian fungsi kurasi dan interpretasi yang selama ini menjadi nilai jual utama jurnalis.
Segmen pengguna chatbot AI untuk berita pun ternyata bukan kelompok awam yang malas membaca. Justru sebaliknya, mereka adalah audiens yang sangat terlibat dan melek digital, dengan 38 persen pengguna chatbot AI untuk berita masuk kategori “news lover” dibanding hanya 22 persen dari responden secara umum, dan mereka cenderung lebih terbuka pada sumber alternatif seperti jurnalis individu dan figur berpengaruh di bidang berita ketimbang sekadar mengandalkan merek media institusional.
Krisis Kepercayaan yang Berjalan Beriringan dengan Krisis Trafik
Disintermediasi tidak datang sendirian. Ia berjalan seiring dengan krisis kepercayaan yang menurut Reuters Institute mencapai titik terendah sejak metrik ini mulai dipantau. Kepercayaan turun signifikan di 29 dari 48 negara yang disurvei, sebuah penurunan yang mencerminkan kerapuhan institusional akibat tekanan politik, sosial, dan teknologi yang saling tumpang tindih. Secara global, hanya 37 persen orang yang menyatakan percaya pada berita, sementara penghindaran terhadap berita naik 2 poin persentase dibanding tahun lalu menjadi 42 persen.
Yang membuat situasi makin pelik, kepercayaan terhadap berita yang ditemukan lewat platform justru lebih rendah dibanding kepercayaan terhadap berita dari sumber konvensional. Tingkat kepercayaan terhadap berita di media sosial dan dari chatbot AI masing-masing hanya 22 persen dan 20 persen secara global, jauh di bawah tingkat kepercayaan terhadap jawaban soal berita di mesin pencari. Dengan kata lain, semakin orang berpindah ke platform pihak ketiga untuk mengonsumsi berita, semakin besar pula risiko erosi kepercayaan terhadap jurnalisme secara keseluruhan, karena jika komposisi konsumsi berita terus bergeser ke arah penemuan lewat media sosial, jaringan video, dan AI seperti yang terjadi sepanjang 2026, penurunan kepercayaan secara umum menjadi konsekuensi yang sebagian besar memang sudah bisa diperkirakan.
Bagi konteks Indonesia, temuan global ini relevan secara langsung. Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat penggunaan video berita online tertinggi di dunia, bersama Thailand, Peru, dan Afrika Selatan, dengan angka di atas 80 persen. Penggunaan TikTok untuk berita di Indonesia juga berada di atas 40 persen, sejajar dengan Peru dan Malaysia. Artinya, audiens Indonesia justru berada di garis depan tren platformisasi global ini, bukan sekadar pengikut.
Dua Kutub Pembaca: Instan yang Dikooptasi, dan Mendalam yang Dicari
Di tengah semua data yang terdengar suram ini, muncul satu pertanyaan yang sering menggelitik para pemimpin redaksi: benarkah pembaca masih membutuhkan artikel panjang macam laporan mendalam, jurnalisme investigatif, atau features, di era media sosial yang serba visual dan serba instan?
Jawabannya ternyata bukan hitam putih, melainkan polarisasi. Pasar pembaca digital saat ini terbelah ke dua kutub yang nyaris berlawanan arah.
Kutub pertama adalah pembaca yang hanya ingin tahu apa yang terjadi hari ini secara cepat. Kebutuhan kelompok ini kini telah dipenuhi dengan sangat efisien oleh AI generatif dan mesin pencari. Mereka tidak lagi perlu mengeklik artikel pendek berisi tiga ratus kata yang isinya cuma menulis ulang rilis pers, karena mesin pencari sudah merangkumnya langsung di halaman hasil pencarian. Media yang model bisnisnya bertumpu sepenuhnya pada volume artikel pendek demi trafik organik akan menemui jalan buntu paling cepat.
Kutub kedua justru lahir sebagai reaksi balik dari kejenuhan terhadap kutub pertama. Ketika informasi instan terasa dangkal, repetitif, dan diproduksi massal oleh mesin, sebagian pembaca mulai mencari sesuatu yang tidak bisa direplikasi AI: kedalaman konteks, eksklusivitas data, dan kehadiran manusia yang bisa dipertanggungjawabkan kredibilitasnya. Reuters Institute turut mengonfirmasi arah ini dari sisi industri. Laporan tersebut menyebut jurnalisme yang lebih mendalam dan berorientasi akuntabilitas, seperti investigasi, berpotensi menjadi cara penting untuk menjangkau audiens yang lebih luas sekaligus membangun kembali kepercayaan pembaca, karena organisasi berita bisa berperan membantu masyarakat memahami perubahan besar di dunia serta menumbuhkan kepercayaan di tengah masyarakat yang merasa lebih banyak terpecah ketimbang memiliki kesamaan.
Namun ada satu syarat krusial yang membedakan jurnalisme mendalam yang berhasil dari yang gagal di ranah digital: bukan soal panjangnya teks, melainkan soal caranya disajikan.
Roh Majalah di Layar Ponsel: Bukan Wall of Text, tapi Scannable Deep-Read
Ada anggapan lama bahwa artikel panjang adalah konsumsi majalah cetak, bukan konsumsi media digital. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah secara historis. Habitat alami laporan mendalam memang majalah cetak tebal berkertas premium yang dibaca tenang di akhir pekan. Ketika format itu dipindahkan mentah-mentah ke layar ponsel, tempat pembaca mudah terdistraksi notifikasi WhatsApp atau media sosial, artikel panjang memang sering mati muda.
Tapi yang sebenarnya ditolak audiens digital bukan jurnalisme mendalamnya, melainkan cara penyajiannya yang keliru. Memindahkan teks empat ribu kata ke WordPress sebagai tumpukan paragraf tanpa jeda adalah resep pasti menuju kegagalan. Di era digital, in-depth news harus bermutasi menjadi sesuatu yang bisa disebut jurnalisme multimedia atau scannable deep-read, yaitu artikel panjang yang dirancang agar tetap nyaman dipindai mata sekaligus dipahami secara utuh.
Pendekatan ini setidaknya bertumpu pada empat elemen yang saling melengkapi.
Pertama, desain yang memberi ruang bernapas. Data rumit tidak lagi dijejalkan dalam tiga paragraf panjang, melainkan divisualisasikan lewat infografis interaktif. Blockquote yang mencolok, foto jurnalistik berkualitas tinggi, dan subjudul yang rapat membantu mata pembaca beristirahat tanpa kehilangan alur cerita.
Kedua, modular storytelling, atau struktur artikel yang bisa dicicil. Berbeda dari majalah cetak yang menuntut dibaca berurutan, artikel digital yang sukses dirancang agar setiap sub-bab bisa berdiri sendiri sekaligus tetap menyatu saat dibaca utuh. Pembaca sibuk bisa membaca bab pertama saat istirahat makan siang dan melanjutkan bab berikutnya malam hari tanpa kehilangan konteks.
Ketiga, ekosistem audio-visual lintas platform. Satu investigasi besar dirilis di web dalam bentuk artikel multimedia yang dikurasi rapi, sementara kisah di balik layarnya dirilis lewat podcast atau audio, menjangkau audiens yang tidak sempat membaca tapi punya waktu mendengarkan saat menyetir atau di transportasi umum.
Keempat, distribusi lewat kanal personal. Alih-alih melepas artikel mendalam ke belantara hasil pencarian Google dengan harap-harap cemas, media kini mengantarkan artikel premium langsung ke kotak masuk pembaca lewat newsletter, tempat jurnalis bisa menyapa pembaca setianya secara personal.
Owned Channels: Membangun Benteng yang Tidak Bisa Diputus Algoritma
Karena trafik dari pihak ketiga makin tidak bisa diprediksi, arah investasi media besar di seluruh dunia berubah drastis sepanjang tahun ini. Fokus utama bergeser total ke pembangunan kanal milik sendiri demi mengunci loyalitas audiens secara langsung, tanpa bergantung pada belas kasihan algoritma.
Data dari survei pemimpin redaksi global menunjukkan ke mana arah investasi ini berjalan. YouTube menjadi fokus utama publisher tahun ini dengan skor bersih plus 74, naik signifikan dibanding tahun lalu, sementara platform berbasis video lain seperti TikTok di angka plus 56 dan Instagram plus 41 juga menjadi prioritas, bersamaan dengan upaya menavigasi distribusi lewat platform AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Perplexity yang mencatat skor plus 61. Sebaliknya, publisher justru akan mengurangi upaya pada SEO gaya lama dengan skor minus 25, demikian pula jejaring sosial konvensional seperti Facebook di minus 23 dan X di minus 52.
Tabel berikut merangkum pergeseran prioritas distribusi media berdasarkan temuan tersebut.
| Kanal Distribusi | Skor Prioritas Bersih (Net Score) | Arah Tren |
| YouTube | +74 | Naik tajam |
| Distribusi lewat platform AI (ChatGPT, Gemini, Perplexity) | +61 | Naik |
| TikTok | +56 | Naik |
| +41 | Stabil naik | |
| Google Discover | +19 | Penting tapi fluktuatif |
| Newsletter (mis. Substack) | +8 | Naik perlahan |
| Google SEO gaya lama | -25 | Ditinggalkan |
| -23 | Ditinggalkan | |
| X (Twitter) | -52 | Ditinggalkan tajam |
Investasi pada format juga ikut bergeser. Hampir empat dari lima publisher, atau 79 persen, berencana memprioritaskan video, sementara 71 persen berinvestasi lebih besar pada audio, dengan tujuan menciptakan pengalaman yang imersif dan berbasis narasi yang lebih sulit difragmentasi oleh alat AI. Seorang editor senior media Australia bahkan menegaskan pergeseran filosofi ini secara terbuka. Menurutnya, tugas utama publisher bukan lagi sekadar menyampaikan berita, melainkan membangun pengalaman yang mendorong penggunaan rutin, dan ketika trafik dari pencarian terus menurun, media harus menemukan cara yang lebih baik untuk melibatkan pembaca secara langsung lewat newsletter, podcast, bahkan teka-teki interaktif sambil mengedukasi mereka tentang identitas merek media tersebut.
“Dosa Asal” Industri Media dan Kapitalisme Platform
Kalau dibedah secara jujur, krisis ini bukan semata akibat AI yang muncul tiba-tiba. Ada dua jebakan besar yang membawa industri media ke tepi jurang, dan keduanya sudah berakar sejak awal era digitalisasi berita.
Jebakan pertama adalah keputusan menjadikan berita instan, peristiwa harian, breaking news, rilis ulang siaran pers, sebagai komoditas utama yang dibagikan gratis demi mengejar klik. Keputusan ini mengabaikan satu fakta penting: berita instan adalah komoditas yang sangat mudah direplikasi. Ketika AI generatif datang, mesin dengan mudah melahap, merangkum, dan menyajikan kembali komoditas murah tersebut langsung di halaman pencarian tanpa perlu mengirim pembaca ke mana-mana.
Jebakan kedua adalah pola hubungan yang oleh banyak pengamat industri disebut bersifat predatoris antara media dan platform teknologi raksasa. Selama bertahun-tahun, platform membujuk media untuk menaruh konten di ekosistem mereka dengan janji limpahan trafik. Begitu media bergantung dan mengubah seluruh proses kerja redaksinya demi memenuhi standar algoritma, mulai dari SEO, judul clickbait, hingga kecepatan publikasi, platform mengubah aturan main secara sepihak demi kepentingan komersial mereka sendiri. Gelombang zero-click search di era AI ini adalah puncak dari pola tersebut: media memeras energi untuk memproduksi bahan mentah, sementara dolar iklan justru mengalir deras ke kantong platform.
Kombinasi dua jebakan ini menjelaskan mengapa krisis yang terjadi sekarang terasa begitu struktural, bukan sekadar gangguan teknis sesaat yang bisa diselesaikan dengan satu pembaruan algoritma SEO.
Senjakala Media Gaya Lama, Bukan Senjakala Jurnalisme
Apakah ini berarti era media berita sudah berakhir? Jawaban paling jujur adalah: ya untuk model media gaya lama yang bertumpu pada trafik massal, tapi belum tentu untuk jurnalisme itu sendiri.
Yang sedang mati di tahun 2026 adalah model bisnis media digital berbasis volume trafik massal, yang mengandalkan ratusan ribu artikel murah demi jutaan tampilan halaman harian demi recehan iklan otomatis. Model ini sudah resmi kehabisan napas. Namun dari reruntuhannya, lanskap baru terpaksa lahir, dan pilihannya kini menjadi cukup tegas bagi media yang ingin bertahan.
Pilihan pertama adalah beralih ke hubungan langsung dengan audiens lewat kanal milik sendiri, menolak terus-menerus didikte oleh algoritma platform pihak ketiga. Pilihan kedua adalah mengubah basis monetisasi dari volume ke nilai, dari berita instan gratisan menjadi informasi eksklusif, analisis mendalam, dan data matang yang membuat pembaca merasa pantas membayar atau berlangganan.
Kabar baiknya, meski krisis trafik nyata adanya, optimisme tidak sepenuhnya padam di kalangan praktisi senior. Seorang kepala digital media bisnis terkemuka menyatakan bahwa tahun ini banyak pihak akhirnya menyadari pentingnya kualitas, orisinalitas, serta hubungan langsung yang bermakna dengan audiens, dan respons terbaik jurnalisme adalah memperkuat hal-hal yang membuatnya bernilai dan unik.
Strategi “1 Banding 10”: Jalan Tengah bagi Redaksi dengan Sumber Daya Terbatas
Tidak semua ruang redaksi punya kemewahan untuk mengubah seluruh operasionalnya menjadi proyek multimedia megah dalam semalam, apalagi dengan struktur tim yang ramping seperti kebanyakan media digital di Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana menerapkan prinsip jurnalisme multimedia secara realistis dan efisien.
Banyak media digital modern mengakalinya dengan pendekatan yang bisa disebut strategi “satu untuk sepuluh”. Alih-alih memaksa seluruh jurnalis memproduksi artikel multimedia setiap hari, redaksi cukup memilih satu isu eksklusif yang benar-benar kuat setiap minggu atau setiap bulan untuk dieksekusi dengan standar kualitatif tertinggi: multimedia, mendalam, kaya visual. Satu karya premium inilah yang kemudian menjadi jangkar reputasi media, magnet bagi pembaca loyal yang berpotensi berlangganan, sekaligus konten utama untuk newsletter eksklusif. Sementara itu, operasional harian tetap berjalan dengan ritme yang lebih terkontrol untuk menjaga stabilitas trafik dan kesehatan situs secara keseluruhan.
Pendekatan ini sejalan dengan apa yang juga ditemukan dalam praktik media global yang sudah mulai mengadopsi AI bukan sebagai pengganti jurnalis, melainkan sebagai alat bantu riset dan verifikasi yang mempercepat kerja investigatif. The New York Times misalnya rutin menggunakan AI untuk menyisir tumpukan informasi dalam berbagai format demi menemukan pola dan konteks, salah satunya saat menelusuri ribuan podcast dan video untuk mengidentifikasi gaya debat dan narasi di balik sebuah gerakan, pekerjaan yang sebelumnya bisa memakan waktu setahun lebih namun kini selesai dalam dua minggu. Pola yang sama mulai diterapkan media di berbagai negara: AI mempercepat proses verifikasi dan riset agar energi jurnalis bisa difokuskan pada hal yang tidak bisa digantikan mesin, yaitu penilaian etis, wawancara mendalam, dan kehadiran fisik di lapangan.
Infrastruktur Teknis: Fondasi yang Sering Terlupakan
Di tengah perdebatan besar soal strategi konten dan distribusi, ada satu dimensi yang sering luput dari sorotan tapi sebenarnya menentukan hidup matinya sebuah media secara operasional: efisiensi infrastruktur teknis. Laporan menyoroti tren optimasi basis data, pembersihan administrasi situs yang lambat, serta bagaimana media mulai lebih cerdas mengelola arsip konten historis mereka agar tetap menjadi aset jangka panjang tanpa membebani performa harian situs utama.
Bagi pengelola media yang juga merangkap urusan teknis, seperti administrasi server dan hosting, ini bukan persoalan sepele. Situs berita dengan ribuan artikel lama yang menumpuk tanpa pengelolaan arsip yang baik justru bisa memperlambat performa keseluruhan, yang pada gilirannya memengaruhi pengalaman pembaca dan secara tidak langsung memengaruhi keterlihatan di mesin pencari maupun di mesin jawaban berbasis AI. Modernisasi infrastruktur, dengan kata lain, bukan sekadar urusan tim IT, melainkan bagian integral dari strategi bertahan hidup media di era disintermediasi.
Penutup: Transisi yang Menyakitkan, tapi Bukan Akhir Cerita
Tidak ada cara untuk membungkus situasi ini agar terdengar nyaman. Ini adalah masa transisi yang menyakitkan, terutama bagi siapa pun yang memimpin ruang redaksi di tengah ketidakpastian seperti sekarang, harus menguras energi menjaga dapur tetap mengepul dengan trafik yang terus tergerus, sembari memikirkan cara membelokkan arah kapal besar yang sudah telanjur melaju di jalur lama.
Namun Reuters Institute Digital News Report 2026 juga menyisakan satu benang merah harapan yang konsisten di seluruh temuannya: hasrat manusia untuk membaca cerita yang kuat, valid, dan mendalam tidak pernah benar-benar mati. Yang berubah hanyalah jalan menuju ke sana. Media yang mampu membangun arsitektur digital tepat, yang menggabungkan kedalaman jurnalistik dengan format yang nyaman dipindai di layar ponsel, distribusi lewat kanal milik sendiri, dan kehadiran manusia yang otentik di balik setiap cerita, akan menemukan bahwa disintermediasi bukan akhir dari jurnalisme. Ia hanya akhir dari satu model bisnis yang selama ini terlalu lama bergantung pada kebaikan hati algoritma orang lain.
Artikel ini disusun berdasarkan data Reuters Institute Digital News Report 2026 dan laporan pendukung Journalism, Media, and Technology Trends and Predictions 2026 dari Reuters Institute for the Study of Journalism, Universitas Oxford, dilengkapi data tambahan dari liputan industri terkini.
Penulis adalah dosen, mentor, dan praktisi media digital di Surabaya

